Cerita Relawan

Kelas Inspirasi, Butuh Komitmen Tinggi

Tahun ini, Kelas Inspirasi datang lagi untuk yang ketiga kalinya di Kabupaten Pasuruan. Kalau tahun kemarin hanya empat Sekolah Dasar yang ditunjuk dalam pelaksanaan Kelas Inspirasi, maka tahun ini sungguh sangat spesial. Ada 10 Sekolah yang ikut memeriahkan Kelas Inspirasi Pasuruan #3. Diantaranya SDN Tosari 2, SDN Jimbaran 2 Puspo, SDN Penunggul 5 Nguling , SDN Bandaran 1, SDN Kalianyar Bangil, SDN Wonosunyo 3 Gempol, SDN Banjarkejern Pandaan, SDN Prigen 2, SDN Tambaksari 3, SDN Panggungrejo Pasuruan.

Saya sendiri ikut meliput di SD Banjarkejen Pandaan. Salah satu sekolah yang berada di pelosok kecamatan Pandaan.

Tren Kelas Inspirasi

Saya pribadi tidak menyangka, bahwa Kelas Inspirasi tahun ini sangat banyak peminatnya. Khususnya untuk para relawan pengajar yang berjumlah lebih dari 40 orang. Setiap sekolah ada empat relawan pengajar yang masuk dengan berbagai macam profesi. Sehari cuti, selamanya akan menginspirasi anak-anak . Hari Senin 7 September jam 7 pagi, semua guru dan anak-anak melaksanakan upacara bendera dengan gembira. Tapi khusus 10 SD yang terpilih, menjadi hari yang spesial. Karena ada para relawan yang mau memberikan motivasi kepada anak-anak, memberikan cerita profesinya dengan baju kebesaran masing-masing, memberikan secuil kebahagiaan kepada anak-anak.

Anak-anak pesisir, anak-anak pelosok desa dengan jangkaun transportasi yang terbatas, dengan jalanan yang belum tersentuh aspal, membuat anak-anak hidup pasrah apa adanya. Tanpa menuntut apa-apa dari lingkungan sekitarnya. Apa yang mereka lihat sehari-hari, itulah yang dijadikan inspirasi oleh mereka. Kebanyakan mereka masih bercita-cita menjadi seperti profesi orangtuanya. Bukan berarti profesi orangtua tidak bagus. Tapi itu disebabkan karena anak-anak masih minim informasi tentang profesi. Mereka hanya beranggapan bahwa menjadi petani sudah bisa makan dan menyekolahkan anak-anak mereka.

Dengan adanya Kelas Inspirasi, anak-anak bias mengenal berbagai macam profesi yang ada. Minimal ada empat profesi yang akan menjadi wacana buat mereka kelak. Minimal mereka akan mengenal dan menghargai bagaimana sebuah profesi itu.

Informasi yang menyebar secara intensif di social media dan dari mulut ke mulut , membuat program Kelas Inspirasi ini semakin terkenal. Di Kabupaten Pasuruan sudah dilaksanakan dengan baik dan lancar, meskipun ada beberapa kendala yang dirasakan oleh Panitia.

Relawan KI Butuh Komitmen Tinggi

Relawan KI yang terdiri dari pengajar profesi , fotografer dan videographer, butuh komitmen tinggi dalam pelaksanaan program ini. Karena kalau tidak, bagaimana jadinya kalau tiba-tiba pengajarnya , fotografer atau videographer tidak datang pada saat hari H? Ini sangat merepotkan. Jadi dalan satu sekolah memang harus ada back up fotografer dan videographer. Minimal dalam satu sekolah harus ada dua fotografer dan dua videografer. Semua itu untuk antisipasi kalau ada salah satu yang berhalangan hadir. Dan memang sudah terjadi, ada beberapa relawan fotografer dan videographer yang berhalangan datang, akhirnya harus cabut sana sini untuk menutupi kekurangan personel di beberapa sekolah.

Komiten sangat dibutuhkan dalam hal ini. Dan dalam hal apapun, plin plan itu sangat merugikan, cermin orang yang tidak profesional dalam bekerja. Padahal hari gini, profesional dalam bekerja sangat dibutuhkan. Karakter ini juga sangat penting untuk kita ajarkan kepada anak-anak sedini mungkin . Mulai SD, anak-anak harus belajar untuk punya komitmen yang kuat pada cita-citanya. Berusaha semaksimal mungkin untuk mencapai apa yang diinginkan. Bukan menjadi anak yang cengeng. Ada halangan sedikit, langsung berhenti di tengah jalan.

Kelas Inspirasi, Melatih Anak Berani Bercita-cita Tinggi

Banyak anak yang takut untuk bercita-cita. Bahkan banyak orangtua yang tidak mendukung apa yang menjadi cita-cita anaknya. Banyak yang hanya pasrah bongkokan , anaknya mau jadi apa kelak. Ada banyak penyebab mengapa orangtua bersikap begitu. Kebanyakan karena faktor ekonomi dan social. Kemiskinan menyebabkan orangtua pasrah dan anak-anak dipaksa untuk pasrah pada keadaan. Nah, dengan KI, anak-anak belajar berani untuk punya keinginan dan cita-cita yang tinggi. Karena cita-cita adalah hak semua anak Indonesia, tanpa memandang status ekonomi , agama , suku dan lainnya. Semua anak bebas bermimpi membangun bangsa untuk Indonesia yang lebih baik .

Ketakutan harus disingkirkan jauh-jauh. Semua harus dimulai dengan motivasi dari guru dan para professional yang rela cuti sehari demi menginspirasi anak-anak Indonesia. Harapan kami , setiap sekolah yang ditunjuk bisa mendapatkan minimal 6 relawan pengajar untuk kelas 1 sampai kelas 6. Semoga kehadiran para relawan benar-benar memberikan sedikit harapan untuk anak-anak untuk berani bermimpi menjadi apapun yang dicita-citakan .

 

diceritakan oleh ka Aulia Manaf

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *