Cerita Relawan

Belajar dari Cacing Parasit

Kelas Inspirasi pertama saya di Kota Pasuruan. Kota terdekat dengan domisili saya di Malang. Penempatan sekolah saya berada di SDN Watuprapat 3, Nguling daerah dekat Pantai. Saya lupa pantai apa namanya. Namun, jangan berekspektasi tinggi dengan pantai di sini. Pantainya tidak berpasir putih tapi cokelas kehitaman, airnya tidak berwarna biru melainkan cokelat. Ahh sudah, yang pentih syahdu semilir angin pantai kita bisa nikmati hehehe.

Pada saat itu Kelas Inspirasi Pasuruan sudah menginjak tahun ke 5, dan saya baru bergabung di tahun ke 5. Tentang antusias jangan ditanya? sangat antusias dengan kegiatan ini. Bermodalkan jas lab warna biru, pinset, handscoon, masker dan awetan basah berbagai cacing parasit saya letakkan di box kayu cokelat. Saya siap untuk menggelar pertunjukkan 🙂

IMG-20170911-WA0066

Pertunjukkan pun dimulai.

Saat masuk kelas yang pertama kali saya lakukan adalah melihat sekeliling kelas. Dan…alhamdulillah kelas yang saya masuki adalah kelas yang sudah memiliki fasilitas yang sudah cukup. Berapa jumlah siswanya? Dibandingkan dengan kelas di kota-kota ya jauh, murid kelas 5 berjumlah 15 orang. Oiya saya masuk di 3 kelas, kelas 5, kelas 6 dan kelas 2. Seru? yaaa…sangat seru, membuat ketagihan, serius. Pengalaman berkomunikasi dengan mereka anak-anak SD, yang awalnya berniat menginspirasi namun malah saya yang terinspirasi. Dialog-dialog di dalam kelas dan cerita mereka menjadi renungan bagi saya sendiri. Fasilitas pendidikan yang saya dapat dibandingkan dengan yang mereka dapat jauh dan saya merasa sedih. Salutnya, semangat belajar mereka tetap membara sepanas cuaca di Pasuruan hahaha.

Materi yang saya bawakan di dalam kelas adalah Kebersihan Tubuh dan Makanan. Bermodal media awetan basah cacing parasit saya pun mulai mendongeng dan menunjukkan cacing-cacing tersebut. Apa yang terjadi? Mereka sangatlah antusias memegang cacing-cacing itu, dengan tangan kosong padahal sudah disediakan handscoon lo,. Tapi beberapa anak menjauh dari saya dan cacing. Kenapa? karena mereka tidak kuat dengan bau formalin, iya formalin media awetan si cacing-cacing itu. Cacing yang saya bawa yaitu cacing hati, cacing kremi, cacing pita pada babi, dan cacing pada usus ayam. Kelas dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang kadang saya merasa kesusahan untuk menjawabnya. Susah, karena pertanyaan dari adik-adik ini tidak bisa saya prediksi, hahaha.

DSC_0384

Saat mendongeng tentang cacing-cacing ini saya mensisipkan tentang PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat). Bagi mereka tidak mengenakan alas kaki dan makan tanpa cuci tangan adalah hal yang lumrah, biasa. Tapi setelah saya membawa cacing-cacing di hadapan mereka, kebiasaan itu pun agak menggoyahkan mereka, mereka takut cacing-cacing itu ada ditubuh mereka. Semoga dengan dongeng singkat itu bisa mengubah perilaku mereka yang kurang sehat menjadi sehat nantinya.

Kelas saya terkadang horor dengan cacing-cacing ini, terkadang gaduh dengan tawa-tawa mereka. Ahh saat saya nulis ini memori-memori itu pun berlarian di otak saya, rindu rasanya 😀

Menyampaikan materi kesehatan untuk kelas 5 dan 6 saya rasa lancar-lancar saja. Nah, ketika masuk di kelas 2 sesuatu pun terjadi. Apa itu????

IMG-20170911-WA0077

Kendala bahasa. Iya mereka tidak lancar berbahasa Indonesaia, tidak lancar berbicara dan mengerti bahasa indonesia. Wadawww… strategipun berubah seketika.

Sekolah kami berada di lingkungan berbahasa Madura. Semua kegiatan di sana memakai bahasa Madura. Mungkin ketika di sekolah saja mereka memakai Bahasa Indonesia. Nah, ketika saya di kelas 2 ini, saya kebingungan menyampaikan materi dengan bahasa indonesia mereka diam tanpa kata. Entah mengerti atau hanya diam berusaha memahami. Dan 5 menit pertama saya masih menggunakan bahasa Indonesia, melihat kelas yang tidak berjalan 2 arah, saya pun merubah metode saya. 5 menit ke dua semua siswa saya minta untuk maju ke depan untuk melihat deretan cacing-cacing itu dan mulai menjelaskan dengan sedikit terbata-bata menggunakan bahasa madura yang saya bisa :D. Ramai tidak? iya rame, gaduh sekali, tapi rame nya bukan tidak berfaedah, mereka ramai bertanya dengan pertanyaan super mereka. Saya di buat kepayahan menjawab dan kucuran keringatpun keluar tak sadar.

Meskipun sehari saya harap tidak hanya sebatas ini. Mimpi dan cita mereka harus tetap berkobar. Betapapun kecilnya kontribusi saya, saya bersyukur bisa menjadi salah satu relawan pengajar dalam kelas inspirasi Pasuruan ini.

“Kamu mungkin tidak akan pernah tahu apa hasil dari tindakanmu, namun ketika kamu tidak bertindak apapun maka tidak akan ada hasil yang terjadi.” – Mahatma Gandhi

 

Diceritakan oleh ka Aziz Tanama

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *